Ada yang mendegup di jantungku
Ialah petuahmu yang paling purba
Perihal mendewasakan ilmu
Lewat lisan dan perbuatan
Katamu:
"Hidupi dunia dengan kerja pengetahuan
Sebab kelak saat kita mati
Maka, ilmu yang diwariskan tetap abadi
Menjantung di dada peradaban
Menjadi alamat terbaik menuju kebenaran"
Guru, benar adanya
Engkaulah pembangun insan cendekia
Pengandung, penglahir dan pembesar peradaban dunia
Wujudkan semesta yang luhur budi pekerti
Menyungguh abdi cerdaskan generasi
Unggul intelektual-spiritual jadi tujuan pasti
Guru, ada benarnya
Kami sering malas belajar juga suka hura-hura
Lupa fokus utama untuk tunaikan cita-cita
Kami generasi manja menggampangkan segala
Padahal sarjana pengangguran di mana-mana
Ijazah hanya alat memahalkan mahar perkawinan belaka!
Oi, betapa bebal hati dan pikiran kami
Kuliah sekadar jaga gengsi
Agar tak disebut bodoh
Agar tak disebut pengangguran
Agar tak cepat-cepat dinikahkan
Tapi kenyataannya masih dungu
Masih merengek minta uang saku
Masih terjebak budaya pacaran yang merusak laksana candu!
Oi, guru dari segala guru
Bimbing kami agar kembali menuju graha ilmu
Menyatu dalam risalah kebajikan selaku insan pembaharu
Biar seribu aral membentang, surut kami berpantang
Biar diamuk duka bergelombang, nakhoda batin tetap kemudi pikir sepenuh tenang!
Kami akan buatmu bangga sepenuh cinta
Seluruh bakti setia mendekap cita-cita
Jiwa-raga direngkuh kasih Tuhan Maha Perkasa
Berlindung dari tipudaya kemalasan kerja
Hingga terlahir sebagai insan cendekia yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama.
Minggu, 10 Desember 2017
Puisi Cahaya Dalam Kelam oleh Putu Wijaya
Di ulangtahun proklamasi
memandang bukit, laut, langit, matahari yang retak
menatap malam, bulan, jiwa yang tercabik terbenam kelam
Ketika para remaja kuyuh, layu, termangu, teler membeku
Padahal topan telah bersiap mengamuk menggasak seantero jagat
tersembelih oleh sedih, pedih lebih terkoyak koyak perih,
angan angan mendaki langit pun runtuh, patah pecah terbelah amarah parah semangat rebah terburai darah triliunan impian punah kita menyerah kala laut pasrah,
tetapi tiba tiba terdengar suara,
kenapa matamu berdarah hanya lantaran kala tak kau percaya ada gelombang perkasa mengendap dalam siksa.
angkat nasib itu untuk senjata
busungkan darah di kubangan luka bertempur lah kian gila
Diatas air mata,
Tulis nasib itu tulis riwayat negeri mu sendiri sejarah baru bukan ulangan masa lalu
Bila kau percaya pada percaya, bila kau setia pada setia, asal kau tetap kau
Akan terbit cahaya didalam kelam
memandang bukit, laut, langit, matahari yang retak
menatap malam, bulan, jiwa yang tercabik terbenam kelam
Ketika para remaja kuyuh, layu, termangu, teler membeku
Padahal topan telah bersiap mengamuk menggasak seantero jagat
tersembelih oleh sedih, pedih lebih terkoyak koyak perih,
angan angan mendaki langit pun runtuh, patah pecah terbelah amarah parah semangat rebah terburai darah triliunan impian punah kita menyerah kala laut pasrah,
tetapi tiba tiba terdengar suara,
kenapa matamu berdarah hanya lantaran kala tak kau percaya ada gelombang perkasa mengendap dalam siksa.
angkat nasib itu untuk senjata
busungkan darah di kubangan luka bertempur lah kian gila
Diatas air mata,
Tulis nasib itu tulis riwayat negeri mu sendiri sejarah baru bukan ulangan masa lalu
Bila kau percaya pada percaya, bila kau setia pada setia, asal kau tetap kau
Akan terbit cahaya didalam kelam
Langganan:
Komentar (Atom)